Posts

Martabat Negeri

Image
Riwayat lama telah merapalkan gema suara para leluhur merapalkan kata ‘merdeka’ ranus tangis perlahan memudar bersamaan dengan matahari yang tenggelam di kaki barat mencoba menilik masa lalu mencari perdu-perdu kenangan zaman-demi zaman silih berganti perlahan semua itu terseret oleh waktu menyaksikan budaya baru datang menggantikan warisan nenek moyang segumpul doa dari para terdahulu untuk Bumi Pertiwi ini mencoba mengantongi semua itu   bahana mengitari elegi memenuhi negeri mencoba menjaga martabat negara.   Sidoarjo, 2026

Barat Purna

Image
Di bawah rambut hujan yang terurai kurapal segenap doa dan harapan agar bermukim di tujuan esok namun, semesta melarangku matahari terbenam di kaki barat seperti semua mimpiku purna dalam sekejap dijejali oleh takdir mencoba berdamai   dan aku tetap tumbuh dalam doa-doa yang sama sama pada keteguhan membaca wajah baik esok.   Sidoarjo, 2026  

Dinding Penuh Kenang

Image
  Aku melihat sesuatu yang telah menjadi kenang di dinding ini, wajah-wajah mereka terpampang kesedihan ini sudah tak lagi dangkal kami usahakan doa-doa kami melayang terdengar sebuah tembang dari para nenek moyang,   bersama kami sematkan semangat menjaga warisan-warisan suci, sebuah azimat yang tersemat teramat lekat nan khidmat.   Sidoarjo, 2026  

Jalan yang Tuhan Berikan Padaku

Image
 J auh dari perkotaan dengan mesin yang tak henti-hentinya bekerja. Hamparan sawah luas nan hijau terbentang luas. Angin berhembus lembut- meniup manja padi yang tumbuh di atasnya. Embun masih sampai di daun pisang. Langit masih gelap. Matahari belum sepenuhnya menampilkan wujudnya. Tak jauh dari sana, sebuah rumah kecil berdiri, meski termakan usia dan terbuat dari anyaman rotan dan disanggah oleh bambu tua, yang mungkin sewaktu-waktu bisa roboh kapan saja. Asap mengepul dari belakang rumah. Akibat dari pembakaran kayu kering.             Air menari-nari di atas panci yang dipanaskan. Suaranya terdengar seolah meminta untuk diangkat. Seorang perempuan parug baya mendekat ke arah kompor. Mengambil udara itu mengunakan sebuah gayung. Menuangkannya ke dalam gelas yang sudah berisi beberapa sendok gula pasir.             “Mak, aku berangkat dulu!” Teriak seorang remaja dar...

Gema Dari Kolong Mbaru Niang

Image
Di lambung lembah yang sunyi, kabut berdansa Pelukan sejuk penuh pukau dan angin mengembalakan awan penuh riang senandung riuh tawa burung, meninggalkan jejak Membelah Cakrawala, menyambut hari baru   suara ibu- mengayak beras di bawah kolong rumah seraya menuturkan dongeng lampau dari narasi juang leluhur membangun perkampungan sebagai simbol serta perlindungan persatuan   suara ayah- mencangkul tanah tandus mengharapkan panen, hati tak tergerus keringat berpadu dengan doa demi sepeser harga dan sesuap nasi untuk keluarga yang menanti di bawah atap alang - yang diselimuti ijuk     suara anak-anak-   mengembala gembiranya, di halaman- menelusuri sabana bunga satu berlari, dua, tiga bernyanyi- hingga awan terpikat Pelukan alam yang menggemaskan   sahaja desa dibangun atas kebersamaan dan petuah suku bagikan kilau lewat nasihat-nasihat sejuk, yang dicari di pagi sunyi, dalam angin menyapa pagi ...

Nama yang Tak Pernah Diingat

Image
Kereta tua membawa Hakesh dari desa terpencil kota metropolitan. Suara kicauan burung tergantikan oleh suara klason yang saling menyyahut. Semula, setiap fajar menyingsing ia melihat bentangan sawah hijau yang luas, kini gedung-gedung yang menggantikan langit menggantikannya. Namanya yang semula di panggil dengan nada familiar dan penuh dengan makna- kini hanya nama yang dibaca cepat lalu tak diingat kembali. Tidak ada yang benar-benar meperdulikan keberadaannya. Penduduk asli mungkin hanya menganggap Hakesh sebagai angin yang mampir sebentar lalu mengihilang.                 Masih teringat jelas dibenaknya, tangisan serta pelukan umak sebelum ia menaiki gerbong kereta. Dimatanya terlihat jelas kekhawatiran yang maha.   Bapak yang hanya menampar bahu Hakesh sesaat, Tak ada kalimat ucapan katapun keluar, namun dapat mengartikan sebuah harapan yang ia bawa sampai kapanpun. Serta adik-adik kecilnya dengan pelukan ha...

Segumpal Anatomi Mimpi

Image
Di kota dengan aroma sejarah tempat di mana roh muda  tumbuh- lahir dari rahim peradaban sebuah ikhtiar merakit jati diri penggerak dengan serbuk-serbuk asa nan cita benih-benih juang ditanam di ladang dada   Aku, lelaki yang tumbuh dari suar buku perpustakaan , dan tulang-tulang waktu yang gigih   Saat buana tak bersahabat, senyum pahit getir kadang menggigit keringat masam kadang-kadang membelit alam semesta mencatat lekuk waktu- hingga wangi udumbara  semerbak   Ikhtiar menghembuskan penat lengan takdir menggandeng setiap usia hingga genap hajat hidup kesabaran yang mulai menua Namun, kesadaran mulai mengambil keputusan asa   langkah yang mengarah pada harapan beranjak bangkit kembali gunung dan biarawati ikut menyaksikan segenap daha-dahan hidup- yang hampir tumbang adakalanya buana merestui kadang kala ia mencerca   biarpun pilu terus menghantui- cemas nan duka acap kali menjanggal nam...