Jalan yang Tuhan Berikan Padaku

 Jauh dari perkotaan dengan mesin yang tak henti-hentinya bekerja. Hamparan sawah luas nan hijau terbentang luas. Angin berhembus lembut- meniup manja padi yang tumbuh di atasnya. Embun masih sampai di daun pisang. Langit masih gelap. Matahari belum sepenuhnya menampilkan wujudnya. Tak jauh dari sana, sebuah rumah kecil berdiri, meski termakan usia dan terbuat dari anyaman rotan dan disanggah oleh bambu tua, yang mungkin sewaktu-waktu bisa roboh kapan saja. Asap mengepul dari belakang rumah. Akibat dari pembakaran kayu kering.

            Air menari-nari di atas panci yang dipanaskan. Suaranya terdengar seolah meminta untuk diangkat. Seorang perempuan parug baya mendekat ke arah kompor. Mengambil udara itu mengunakan sebuah gayung. Menuangkannya ke dalam gelas yang sudah berisi beberapa sendok gula pasir.

            “Mak, aku berangkat dulu!” Teriak seorang remaja dari arah depan, seraya bergegas-buru menggunakan sepatunya yang sudah usang.

            “Tunggu, kamu belum sarapan!” Sahut emak dari dapur. Buru-buru ia mengaduk air gula itu, lalu membawanya kedepan bersamaan dengan sepiribg singkong rebus.

            Namun, saat ia sudah tiba di teras, yang ia lihat hanyalah punggung anak gadisnya yang perlahan menjauh. Kecil-namun ada semangat yang tertanam. Emak tersenyum, seraya melambai-lambaikan tangannya.

            Remaja itu terus berlari. Dikejar dan mengejar waktu. Di punggungnya membawa segunung harapan dan cita. Ia terus berlari, melewati jalan setapak dan rumput-rumput ilalang yang tinggi. Berharap ia tidak akan ketinggalan mobil angkutan yang merupakan kendaraan satu-satunya di desanya yang menuju ke arah tempatnya bersekolah. Langkahnya semakin besar saat sopir melihat dari mobil tersebut sudah siap untuk meninggalkan tempat ini. Tepat pada saat pedal gas diinjak- gadis itu menghentikan mobilnya agar tidak tetap melaju.

            Sang merasa sopir iba melihatnya, dengan senang hati ia mempersilahkannya untuk masuk. Akhirnya, setelah berlarian selama 20 menit ia bisa duduk juga. Napasnya berburu, dadanya naik turun, dan keringat mengucur deras dari dahi. Tenggorokannya terasa seperti Gurun Sahara- kering. Sunyi mengambil alih. Membiarkan suara mesin tua mobil tersebut mendominasi. Tak banyak penumpang pagi ini. Mobil terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Jadi ia tidak perlu bergesek-gesekan dengan penumpang lain.

            “Asri, udah sarapan tadi?” Tanya sang sopir- Slamet.

            “Belum, Pak. Gak sempet tadi.” Jawab Asri seraya mengusap peluh di dahi.

            Slamet menggeleng pelan. Lalu meraih satu botol air minum dan sebungkus roti. Ia serahkan kepada Asri. “Ini, kamu harus makan sebelum belajar.” Ucapannya saat mobil berhenti di lampu merah. Mereka sudah memasuki kawasan perkotaan.

            “Ah, tidak usah, Pak. Merepotkan.” Tolak Asri pelan seraya tersenyum. Namun Slamet terus berusaha memberikan kedua barang tersebut padanya. Lelah dengan kesepakatan tersebut, mau tak mau ia pun menerima barang itu. Toh ia juga kelaparan dan kehausan.

            Perlahan Asri membuka tutup air minum lalu menegaknya seperti orang yang menemukan oasis di tengah-tengah gurun, hingga udara di dalamya mecapai setengah botol. Asri juga membuka roti yang diberikan, menyilangkannya dengan malu-malu. Sungguh betapa bersyukurnya ia pagi ini. Asri tidak perlu membeli sarapan di sekolahnya nanti. Uangnya bisa ia tabung untuk hal lain.

            "Kok nak Asri bersekolah sampai kota? Kenapa gak di rumah bantu Emak saja?" Tanya Slamet.

            “Kata emak kita perempuan juga berhak untuk menuntut ilmu.” Jawab Asri singkat.

            Slamet membulatkan bibirnya. “Meski harus dipisahkan dengan orang tua?” Slamet bertanya kembali. Dari kaca spion, ia bisa melihat Asri mengangguk mantap.

            Sepulang sekolah Asri kembali menaiki mobil angkutan Pak Slamet. Sengaja ia pulang melewati pasar untuk membeli buku tulis dengan uang tabungannya. Saat melakukan transaksi pembayaran, Asri mendengar suara gaduh-gaduh dari ujung pasar. Karena penasaran, ia mempercepat transaksi jual-belinya lalu segera mendekati keramaian tersebut. Banyak orang yang bergerombol, yang menyebabkan dirinya tidak bisa melihat apa yang sedang digerombol. Dengan tubuh kecilnya, Asri menyelip masuk ke dalam grombolan orang-orang. Saat berada di barisan paling depan, ia melihat seorang wanita. Ia menggunakan pakaian yang sangat tertutup dan wajahnya ditutupi oleh kain berwarana hitam- atau biasa orang menyebutnya dengan cadar. Asri memperhatikan sang wanita yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Tampak memancarkan kekaguman yang maha. Siapakah wanita tersebut?

            Matahari perlahan terbenam di kaki barat. Memancarkan cahya jingga yang indah. Suara azan dari toa masjid saling bersahutan satu sama lain. Emak menunggu di teras rumah dengan perasaan tidak nyaman. Ia menunggu putri semata wayangnya. Tak biasanya ia tidak pulang sampai larut sepeti ini. Rembulan emak tak dapat lagi melihat dengan jelas. Semakin menambah kegelisahan. Tiba-tiba, dari sudut matanya saya dapat melihat sebuah bayangan berlari mendekat. Ia semakin mendekat, sampai tampak jelas bentuknya- Asri, putrinya sendiri.

            Emak tersenyum melihatnya. Bersyukur, Asri pulang dengan keadaan selamat. Mereka saling berpelukan dengan erat.

            “Mak, aku ingin masuk pesantren.” Ucap Asri setelah pelukan mereka berakhir.

            Emak tak langsung merespons. Ia terlebih dahulu menatap lekat rembulan cokelat milik putrinya. Mencari maksud dari pa yang anaknya katakan. “Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu?”

            "Tadi aku melihat seorang wanita yang sedang dikelilingi banyak orang di pasar. Setelah aku melihatnya secara langsung, ternyata ia adalah seorang ustadah yang sangat terkenal di sosmed, Mak." Asri bercerita. Sengaja emak tidak menjawab, menunggu menyelesaikan ceritanya terlebih dahulu.

            “Lalu kita cenderung bersama. Aku jadi tahu jika dia dulu juga hidup seperti kita, namun setelah orang tuanya memasukkan dia ke dlaam pesantren semua jadi berubah. Jadi, aku ingin menjadi seperti dia.” Lanjutnya.

            Tak ada jawaban dari emak, Yang ada emak malah pergi dan meninggalkan dirinya sendiri di luar. Asri mematung, apakah yang didengarnya ia mengucapkan salah? Apakah hati emak tersakiti karenannya? Tak ingin berlarut, Asri memutuskan untuk masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. Membersihkan tubuhnya, lalu solat maghrib sebelum makan malam bersama.

            Menu makan malam kali ini sederhana; hanya ikan laut dan tempe sisa kemarin, dan juga sebakul nasi. Sejak kecil ia memang lahir dari rahin kemiskinan. Juga tumbuh dengan kondisi ekonomi yang serba pas-pasan. Itu sudah menjadi hal biasa baginya. Setiap hari Asri harus berhemat. Menahan keinginannya untuk membeli sesuatu.

            Sunyi di meja makan terhidang. Tak ada yang berbicara. Semuanya sibuk memasukkan dan mengunyak makanan masing-masing. Asri melihat ke arah ayah- orang yang sudah rela memabanting tulang siang-malam untuk mengihidupi keluarga kecilnya. Lalu ia menoleh kearak emak- seorang wanita kuat yang sudah melahirkannya dan merawatnya hingga saat ini.

            “Yah, Mak. Aku ingin masuk pesantren.” Ucap Asri pelan. Mulutnya bergetar.

            Ayah menarik nafas dalam lalu berkata, “ayah sudah mendengar dari emak. Yasudah, jika itu maumu.”

            Mata Asri membola. Tak percaya apa yang disampaikan ayahnya katakan. Sepertinya mengerti maksud dari ekspresi sang anak, ayah menjelaskan lagi. Air mata Asri tak bisa ia membungkuk lagi. Air mata bahagia pun keluar dari matanya. Lalu berlari untuk memeluk ayah dan emaknya.

            “Terima kasih.” Satu kata itu lolos dari mulut.

            Berepa waktu kemudian. Asri dan kedua orang tuanya tiba di pintu gerbang sebuah pondok pesantren. Lokasinya sangat jauh tempat tinggal. Sampai-sampai mereka harus menyebrangi lautan dengan perahu kecil agar sampai disini. Asri berpamitan kepada ayah dan emaknya. Tangis menyertai pertemuan terakhir mereka. Meski pahit, Asri tahu, ini adalah jalan yang Allah tunjukan padanya. Jalan yang menjadi awal mula untuk kehidupan barunya.

            Bertahun-tahun kemudian, Asri sukses menggapai yang ia impikan. Menjadi seorang ustadah yang terkenal. Ia berhasil menamatkan sekolahnya smapi perguruan tinggi dan mengajar di acara-acara terkenal. Serta berhasil membawa perekonomian ke perekonomian yang lebih baik.

Sidoarjo, 2026


Comments

Popular posts from this blog

Kehidupan di Atas Kertas

Si Sulung

Segumpal Anatomi Mimpi