Nama yang Tak Pernah Diingat
Kereta tua membawa Hakesh dari desa terpencil kota metropolitan. Suara kicauan burung tergantikan oleh suara klason yang saling menyyahut. Semula, setiap fajar menyingsing ia melihat bentangan sawah hijau yang luas, kini gedung-gedung yang menggantikan langit menggantikannya. Namanya yang semula di panggil dengan nada familiar dan penuh dengan makna- kini hanya nama yang dibaca cepat lalu tak diingat kembali. Tidak ada yang benar-benar meperdulikan keberadaannya. Penduduk asli mungkin hanya menganggap Hakesh sebagai angin yang mampir sebentar lalu mengihilang.
Masih teringat jelas dibenaknya, tangisan serta pelukan umak sebelum ia menaiki gerbong kereta. Dimatanya terlihat jelas kekhawatiran yang maha. Bapak yang hanya menampar bahu Hakesh sesaat, Tak ada kalimat ucapan katapun keluar, namun dapat mengartikan sebuah harapan yang ia bawa sampai kapanpun. Serta adik-adik kecilnya dengan pelukan hangat mereka.
"Kalau capek pulang ya" Ucapkan umak sebelum ia benar-benar memasuki gerbong. Hakesh mengangguk dan mengganti tangan untuk terakhir kalinya.
Ia berangkat ke kota hanya dengan koper kecil yang berisi lebih banyak harapan dari pada baju-baju lusuh di dalamnya, ijazah SMA, dan berkas-berkas penting yang warnanya mulai menguning, serta satu amplop berisi bekal hidupnya di sini. Meski ia tak tahu sampai kapan isi didalamnya bertahan. Hakesh menyewa kamar kos kecil, dengan suasana lembab dan lampu yang temaram. Beserta lantai kayu yang berdenyit setiap kali ia menginjaknya- seolah tak menginginkan keberadaannya di sini. Setiap malam ia melihat ke arah jendela yang langsung menghadap jendela sebuah kelurga, yang selalu menampilkan bayang-banyang kehangatan keluarga tersebut, berbanding terbalik dengan kondisinya sekarang.
Setiap hari dari pagi sampai malam ia bekerja sebagai buruh sebuah bangunan milik pemerintah. Meski upahnya pas-pasan untuk membiayai hidupnya, ia jalani yang ada dulu seraya mencari-cari pekerjaan yang lebih layak. Pada malam hari ia berkumpul di warung kecil dengan para pendatang lain, berbagi kisah yang sebenarnya tidak mudah dan alasan mengapa mereka ada di sini. Menjelang tengah malam saat ia hampir memasuki alam mimpi, ponselnya berdering. Segera angkat.
"Umak." Nama yang tertera di layar kecilnya. Dahulu kala ia berbunga-bunga. Perasaannya senang tak main-main. Setelah sekian lama ia menunggu akhirnya ada telepon dari keluarganya. Mereka saling bertanya akan kabar mereka, memberikan pesan rindu singkat, dan bercerita tentang apa yang terjadi selama ini.
“Kamu sudah makan, Nak?” Pertanyaan singkat itu berhasil membuat Hakesh mematung lama. Bingung ingin menjawab apa.
"Sudah, Mak. Setiap hari aku makan enak disini." Yang nyatanya sangat berbeda dengan apa yang ia alami. Sengaja ia berbohong agar tidak membuat umak khawatir akan kondisinya. Saat lewat tengah malam sambungan telepon terputus.
Rasa kantuk Hakesh hilang begitu saja. Ia memikirkan apa yang umaknya ceritakan saat panggilan singkat tadi. Bahwa salah satu adiknya sakit dan mobil pick up
yang menjadi penghasilan utama keluarganya telah dicuri. Ia meraih kotak bekas sepatu yang ia temukan beberapa hari lalu di dekat tempat bekerja, lalu menghitung uang hasil kerja kerasnya selama ini. Lalu ia membaginya.
“Ini untuk keluarga di desa, ini untuk biaya pengobatan adik, ini untuk…” Kalimatnya terhenti setelah menyadari uang yang tersisa hanya tinggal beberapa lembar saja. Hakesh menarik napas lalu mencekiknya dengan kasar. Melerakan uang simpanannya selama ini ia kirim ke keluarga yang di desa.
Fajar muncul dari ujung kaki timur, seperti biasa, Hakesh berjalan kaki menuju tempatnya bekerja. Ia berjalan dengan langkah yakin dan punggung yang kini tak setegap dulu lagi, karena ia terlalu banyak membawa beban. Mulutnya mengunyah roti yang ia dapatkan secara gratis dari toko swalayan karena sudah mendekati masa kadaluarsanaya . Di tengah perjalanan netranya tak sengaja menangkap sesuatu: Poster pendaftaran sekolah tinggi fakultas ekonomi. Awalnya dia tidak tertarik, namun poster itu seolah memanggil namanya. Karena rasa penasarannya besar, ia pun mendekatinya. Hakesh baca dengan khusuk. Mencermati setiap kalimatnya.
Tiba-tiba seseorang mendekatinya. Lalu menampar bahunya dengan pelan. Hakesh menoleh secara spontan. Seorang pria tua berdiri dengan stelan baju sederhana. Rambutnya sudal mulai putih dan wajahnya sudah mulai berkeriput. Namun tetap tidak bisa menghilangkan wajah dan senyumnya yang sejuk.
"Kamu berminat?" Tanya pria itu singkat.
Hakesh awalnya dirinya sendiri di dalam hati. Lalu menjawab, "ahh..., tidak pak. Saya hanya melihat-lihat saja." Jawabnya seraya tersenyum dan menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya gatal.
"Kalau berminat dan kamu yakin kamu mampu, ikut mendaftar saja." Kata si pria seraya tangannya memberikan lembaran yang sama dan folmulir pendaftaran. Hakesh berteman dengan senyum kikuk. Lalu berpamitan karena jam kerja hampir dekat.
Selama bekerja ia terus memikirkan tawaran dari pria tua tadi. Sampai-sampai ia tak fokus dan hampir menjatuhkan keramik marmer yang ia angkat. Saat waktunya istirahat, salah seorang rekan kerja bertanya padanya. Hakesh bercerita tentang kejadian tadi pagi saat di jalan tadi.
"Memangnya kenapa? Kalau kamu merasa mampu, ikuti saja." Temannya memberi saran.
"Tapi uangnya dari mana?" Hakesh bertanya dengan nada putus asa.
"Ya..., kan ada beasiswa. Kamu pintar lho, Kesh. Mungkin kalau kamu beruntung kamu bisa mendapatkannya." Jawab teman. Peran itu memasaknya kembali.
Tawaran dari pria tua tadi dan kata teman masih terus saja memenuhi isi kepalanya sampai ia kembali ke kos kecilnya. Ia tak bisa tidur dibuatnya. Saat lewat tengah malam, Hakesh mengambil keputusan nekat. Ia mengambil pulpen, lalu perlahan mengisi folmulir yang tadi diberikan. Menurutnya, tuhan pasti adil terhadapk hambanya.
Beberapa hari kemudian setelah Hakesh mengumpulkan folmulir yang ia isi dengan bermodalkan nekad dan doa saja, Hakesh menjalani tes masuk. Ia baru belajar dari buku-buku usang di perpustakaan kota setelah selesai bekerja. Ia melihat peserta lain yang juga mendaftar. Pakaian mereka bagus, sementara itu? Hanya menggunakan kaos dan celana jeans usang yang ia bawa dari desa. Kaki mereka dialaskan sepatu mereka bermerk semua. Sementara
Sandal jepit yang talinya dipaku karena sebenarnya sudah putus, menjadi alas Hakesh. Awalnya dia tak perca ya , namun dia teringat kembali dengan kata temannya.
Hakesh kembali menjalani hidu p nya seperti biasa. Menganggap tes kemarin hanyalah bagian dari hidupnya- tak perlu dipikirkan kembali. Namun, sebuah kabar yang tak pernah ia sangka sampai di telinga. Bahwa ia Diterima di kampus tersebut dan hal yang lebih mengejutkan kembali. Namanya- Hakesh Baehaqi, berada diurutan paling atas di antara peserta lain. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Malam hari setelah pengumuman kelulusan itu, Hakesh kembali menghubungi umak. Untuk memberitahukan kabar bahagia tersebut. Tepat saat telepon terhubung, Hakesh langsung menangis dan memberitau umaknya, "Umak, aku kuliah..."
Bukan ucapan selamat ataupun rasa bangga yang ia dapatkan, melainkan, "Bayarnya menggunakan uang?" Tanya umak yang berhasil mengoyakkan hatinya. Tangis yang semulanya tangis bahagia kini berganti dengan tangis keputus asaan. Ia segera memutus sambungan panggilan- takut menyakiti orang tua dengan ungkapan kekecawaannya.
Saat ini, saya bingung harus membayar dengan apa. Hakesh teringat kalau kampus itu juga menerima beasiswa. Hakesh bermaksud untuk mendapatkan beasiswa itu. Meski kuotanya sedikit, tapi ia yakin ia akan menjadi salah satunya. Tes Beasiswa akan dimulai beberapa hari lagi. Hakesh meningkatkan jam belajarnya. Setiap selesai bekerja dan saat jam istirahat ia pakai untukk belajar. Ia ingin membuktikan kepada kedua orang tuanya bahwa ia mampu.
Hari dimana adalah hari untuk membuktikan semua perjuangan yang Hakesh lakukan selama ini tiba. Namun saat ia ingin masuk ke dalam ruangan, salah seorang staf menariknya lalu aku membawa dirinya kesebuah ruangan. Di sana, Hakesh duduk dihadapan kepala rektor kampus. Dia diminta untuk menceritakan asal mula kenapa dia bisa berada disini. Hakesh pun menceritakan semuanya. Berawal dari tempat asalnya, alasan mengapa ia merantau ke kota besar, tempat tinggalnya, pekerjaan, adiknya yang sedang sakit, mobil keluarganya dicuri, awal kenapa ia mau mendafatar, Hakesh diceritakan dengan sejujur-jujurnya tanpa ada yang menutupi. Kepala Rektor menyimak dengan penuh perhatian. Setelah cerita berakhir, ia merasa iba dengan kondisi Hakesh saat ini.
"Kamu siap menerima beasiswa?" Tanya kepala rektor seraya mengulurkan tangan.
"Saya siap!" Tanpa ragu Hakesh menjawab, lalu ikut menyampaikan penjelasannya. Mereka menjabat tangan. Mulai hari ini Hakesh resmi menjadi mahasiswa fakultas ekonomi dengan beasiswa penuh .
Rutinitas hidupnya berubah. Setiap pagi ia berangkat menuju kampus- tetap dengan berjalan kaki. Malamnya ia mengambil kerja paruh waktu menjadi seorang barista di kafe kecil di dekat kampus. Teman-temannya kini bertambah. Dan namanya bukan lagi nama yang ditulis singkat dan tak diingat. Sekarang namanya selalu berada diatas dengan presikat nilai tertinggi. Orang-orang mengenalnya sebagai “Si pejuang dari desa”.
Setelah lulus ia magang di sebuah bank ternama. Perlahan levelnya naik. Dan kini, ia menjabat sebagai direktur bank.
Bertahun-tahun kemudian, ia pulang ke desa dengan keadaan yang lebih baik. Kondisi desa masih sama, masih hijau. Ia pulang dengan pembeli yang sama seperti saat ia datang ke kota. Namun itu berbeda. Kali ini isinya adalah oleh-oleh untuk keluarga.
Dari perkenalan, ibu yang kini rambutnya sudah memutih melihatnya. Awalnya dia bingung siapa itu, setelah raga itu mendekati barulah dia sadar bahwa itu anaknya. Segera ia memeluk Hakesh dengan erat. Setelah sekian lama, Hakesh bisa merasakan pelukan hangat ini lagi. Bapak keluar dari rumah, kondisinya masih sama. Hanya sedikit lebih kurus dan keriput yang bertambah, seolah mewakili perjuangan beliau selama ini. Adik-adiknya yang tampak berlari mendekat dengan senyum yang lebar. Lalu memeluknya.
“Abang udah sukses?” Tanya adik laki-lakinya.
"Aku mau sukses seperti abang!" Ucapan adik kecil. Hakesh hanya membalas mereka dengen senyum yang tak kal ah lebarnya .
Hakesh kembali mendekati bapak dan umaknya. Merangkul mereka kemabali. Pelukan yang terasa canggung namun utuh.
“Kenapa lama sekali pulangnya?” Tanya umak seraya menangis.
"Maaf lama, aku ingin pulang saat aku sudah berhasil dan membuat bapak dan umak bangga." Jawab Hakesh yang mulai mengeluarkan air mata.
Ia tinggal di desa beberapa hari. Melepaskan penat dan rindu. Membantu bapak di sawah, membantu umak di dapur, dan mengajak kedua adiknya bermain. Sebelum Kembali ke kota. Untuk kembali menaruhkan hidup di sana.
Sidoarjo, 2026
.jpg)
Comments
Post a Comment